Kalau Anda kebelet pipis atau pengen bakery sementara Anda lagi diperjalanan, Anda akan menuju ke sebuah WC umum untuk melancarkan hajat Anda. Tentu saja Anda harus mengeluarkan uang setidaknya Rp1000 dari kocek Anda. Memang… saat ini memasukan barang ke dalam badan (makan/minum) bayar, mengeluarkannya juga harus bayar. Kapankah hal ini (buang air yang bayar) akan bertahan?

Diprediksikan, di masa depan, buang air dijamin tidak akan membayar. Malah si pelaku mendapatkan bayaran. Akhir2 ini sampai beberapa tahun mendatang, topik sumber energi masih akan menjadi masalah di atas muka bumi ini. Nafsunya AS menyerang Afganistan dan Irak tidak lain salah satu tujuannya adalah sumber energi ini, sampai2 saat ini harga minyak mentah dunia mengancam ke level USD 100 per barrel. Para ilmuwan dari dulu sampai tidak tahu kapan telah sedang dan akan mencari energi alternatif lain selain minyak bumi. Ada banyak pilihan sebenernya, panas bumi, ombak, angin, air, panas matahari, cell (batere), bahkan yang santer disosialisasikan oleh pemerintah republik mabur adalah penggunaan reaktor nuklir untuk damai. Selain itu, energi dari sisa metabolism di tubuh kita pun bisa dimanfaatkan.

Gw pernah baca di salah satu koran nasional, KORAN TEMPO, bahwa peneliti Jepang (kalo bener), sudah menemukan batere yg “berbahan bakar” air ompol. Gw juga dulu pas SMU pernah berkunjung ke daerah penelitian di Cianjur, VEDCA namanya. Mereka telah membuat kompor yang dengan bahan bakar gas dari kotoran kebo. Nah dari air ompol sama bakery aja ternyata bisa dibikin sumber energi baru, makanya di masa datang akan ada ide seperti alinea berikut ini.

Pemkot akan membuat sistem pembuangan metabolism secara tersentral. Ini mirip pendingin tersentral yang ada di beberapa kota maju, seperti di Dubai. Maka dari kloset2 rumahan, kantor, hotel dan WC umum, akan diarahkan ke pusat penampungan ini. Biar keren sebut aja “Septic Tank Square” (walah… kayak nama mol) . Di dalam WC2 tersebut telah dipisahkan mana air ompol, mana bakery. Nanti kedua calon sumber energi baru ini akan diolah secara terpisah. Di pusat penampungan ini dibikinlah sebuah reaksi2 sehingga calon energi ini akan menjadi energi beneren. Energi baru ini akan didistribusikan ulang ke rumah2, kantor2, dan hotel2 di kota tersebut. Bio energi ini bisa digunakan untuk kompor, ngelas (bisa ngga yah…) atau apalah… karena nanti bakal ada peneliti atau perusahaan yg fokus memproduksi alat pemanfaatan bio energi ini.

Karena sebegitu berharganya “output” kita bagi penyediaan energi alternatif, maka sangat layak apabila kita di masa datang dibayar untuk buang air. Nah… kalo buang angin gimana nasibnya?