Orang Pintar Minum Tolak Angin
adalah bahasa iklannya jamu Tolak Angin dari Sidomuncul. Kompetitornya, Bintang Toedjoe dengan Bintangin-nya, juga bikin bahasa iklan tandingan kira-kira seperti ini
Tidak perlu pintar untuk minum obat anti masuk angin
Tulisan ini takkan mengulas tentang strategi marketing, tapi ini tentang pelajaran matematika SMP dan SMA (juga kuliah), tepatnya Matematika Diskret bagian Logika Matematika.
Kalimat “Orang pintar minum Tolak Angin” adalah penyederhanaan dari kalimat “Jika orang pintar maka minum tolak angin.” Dalam logika matematika dapat disimbolkan menjadi p -> q. Di mana orang pintar adalah syarat cukup untuk minum Tolak Angin dan minum Tolak Angin adalah syarat perlu untuk orang pintar. Ini setara dengan -q -> -p dan -q V p, yakni “Jika tidak minum tolak angin maka bukan orang pintar” dan “Tidak pintar atau minum tolak angin“.
Pertanyaannya adalah apakah dengan meminum jamu Tolak Angin itu akan menjadi orang pintar? Jawabannya adalah tidak dong. Ya belajar kalo mau pintar mah. Karena q -> p (”Jika minum tolak angin maka orang pintar“) itu tidak setara dengan p -> q.
Terus gimana nasibnya orang tidak pintar atau bodoh? Apakah mereka (bukan gw loh) boleh minum Tolak Angin? Tentu saja jawabannya boleh. Karena -p -> -q (”Kalau orang bodoh maka tidak boleh minum Tolak Angin“) tidak setara dengan p -> q. Artinya ya orang bodoh mah bebas boleh minum Tolak Angin, boleh minum Bintangin atau jamu apapun, terserah. Tapi yg pasti, kalimat itu berpesan bahwa “Kalau Anda tidak minum tolak angin maka Anda bukan orang pintar alias orang bodoh“.
Begitulah duduk persoalan kalimat iklan yg sering dikritisi oleh orang2 termasuk blogger lain seperti ini, ini, ini, ini dan masih banyak lagi seperti di sini.
Sekarang kalimat iklan ke dua “Tidak perlu pintar untuk minum obat anti masuk angin” bisa ditransformasi menjadi “Jika minum obat anti masuk angin maka tidak perlu pintar“. Ini kita sebut p -> q. Ini setara dengan “Jika perlu pintar maka jangan minum obat anti masuk angin“dan “Minum obat anti masuk angin atau perlu pintar” Artinya, syarat perlu untuk tidak perlu pintar adalah minum obat anti masuk angin. Bingung kan? Gw juga begitu tapi belum sampai keram otak. OK kita teruskan…..
Apakah orang pintar boleh minum Bintangin? Mmmhhh gimana ya… Bahasa iklan Bintangin ini beda konteksnya dengan Tolak Angin yang benar2 menargetkan pasarnya pada segmen atas. Intinya Bintangin itu ingin bisa diterima oleh semua segmen pasar, sementara Tolak Angin ingin mentargetkan bagi kalangan SES atas saja. Tapi entahlah apakah positioningnya Tolak Angin telah menunjukkan demikian? Loh kok jadi nyeritain strategi marketing. Kayaknya otak gw udah mulai pegel2 nih. Daripada nanti jadi keram otak mendingan kiri aja sekarang! “Kiri mang!” Ckiii…iiittt!
Tags: Jamu Tolak Angin, Logika matematika
You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.
8 Januari 2008 at 3:48 pm
hahha..
gw suka banget tuh iklan “yg ngolok-olok antangin”…
lebih cerdas…jadinya..
9 Januari 2008 at 8:41 am
bos, sekarang udah jadi. Orang pinter minum yang bener…
Gw lebih seneng TVC versi yang ini coz sangat menonjolkan budaya Indonesia dengan seni dan ide yang menurut gw sangat luar biasa. Sekaligus menunjukan kepada khalayak bahwa jamu adalah milik Indonesia.
9 Januari 2008 at 9:04 am
wakakakak…itu kata Bos gw yg di Bogasai merupakan kesalahan marketing, kalo lo ngiklanin Bintangin ngiklanin produk kayak gitu secara nggak langsung dia juga ngiklanin produk Tolak Angin. karena awal yang keluar duluan adalah Tolak angin dengan image “Orang Pinter minum Tolak Angin”. ketika Bintangin ngeluarin image “Nggak perlu pinter buat minum obat masuk angin”. maka di benak yang orang yang sudah tahu iklan tolak angin akan semakin menguatkan image tersebut dalam alam bawah sadar mereka. itulah yang pernah dialami oleh Indofood, ketika mengeluarkan Supermie Sedap untuk menyaingi Mie Sedap. ini istilahnya “lumayan iklan ngatis dari pesaing”
18 Maret 2008 at 9:10 pm
Hehe2.. Mungkin sedikit typo yg p -> q setara dgn ~q V p harusnya kan ~p V q.
Coba cek pake tabel.
Eh tp pernyataanya udah bener “Tidak pintar atau minum tolak angin”
19 Maret 2008 at 11:06 am
Oh salah yah… Sumimasen…nanti sayah benerin. Nuhun dah ngoreksi…