Kejaksaan Ooo Kejaksaan

“Ooo” dalam judul di atas jangan diartikan OpenOffice.org, tapi ini adalah expresi kekecewaan rahayat leutik pada penegakan hukum. Di level nasional yang disorot oleh media internasional pula, mang Urip ternyata menjadi babehnya koruptor. Dalam waktu yang bersamaan, mang Urip juga babehnya para Jaksa. Kalau anak buahnya gimana, apakah otomatis menjadi anak-anak koruptor juga di samping anak-anak jaksa?

Ternyata kelakuan anak tak jauh dari kelakuan babeh, di level kabupaten juga anak buahnya Urip melakukan hal yang sama. Jaksa di kabupaten bukanlah orang kaya tapi orang kecil. Alangkah menyedihkannya ketika melihat jaksa di kabupaten itu memeras orang kecil juga.

Ini namanya senasib tapi lu yang naggung

Kasihan banget Bapak sayah yang telah membangun sekolahnya dari dana “DAK” pusat. Di kala pembangunanya, banyak wartawan (bapak saya membedakan istilah “wartawan” dengan “jurnalis”) yang datang menta duit. Tapi semuanya ditolak. Puncaknya adalah datang bosnya wartawan dengan perawakan seperti preman. Bapak saya bener2 ngga peduli. Bapak saya cerita, setengah jam face-to-face tidak ngobrol sama sekali hanya beradu pandangan (tapi bukan lagi adu “pakuat-kuat teu ngiceup”). Ke sananya ya… udah ketebak lah, wartawan tanpa surat kabar itu memeras Bapak saya. Tapi ditolak mentah2. Kacian deh lu wartawan preman. Mendengar kisah itu, saya bangga sekali memiliki Bapak dengan integritas tinggi dan penuh dengan dignity.

Ya dengan senang saya mengantarkan Bapak ke proyek pembangunan sekolahnya untuk meninjau perkembangan,  karena ketika itu Bapak saya baru tabarakan motor dengan patah tulang pundak kiri dan belah tempurung lutut kanan. Saya disuruh membuat “gambar hidup” (ini istilah Bapak saya untuk Movie) progress pembangunan sekolahnya dari waktu ke waktu, dan nantinya dibakar dalam bentuk DVD. Ini dilakukan untuk laporan pertanggung jawaban kelak kalau ada yang nuduh macam-macam.

Nah ketika yang datang adalah jurnalis, Bapak saya menyambutnya dengan hangat dan menjawab pertanyaan2nya dengan jelas. Sampai sebelum pulang, jurnalis itu bilang bahwa sekolah yang Bapak saya bangun itu bagus banget. al-Hamdulillaah. Bangga kali Bapakku dibuatnya.

Suatu hari datang surat dari Kejaksaan meminta Bapak saya mempertanggunjawabkan keuangannya. Bapak saya bener2 positif menyambut itu, karena apa? Karena sekolah Bapak saya menjadi teladan untuk pembangunan sekolah entah se-Kabupaten atau Nasional. Ternyata fakta bicara lain di panggilan yang ketiga, ooo sayang disayang, Jaksanya ngaku pengen duit. Bapak saya kesel, kenapa ngga bilang dari awal. Ngabisin enerhi aja…. Akhirnya saya kecewa dengan keputusan Bapak saya yang ngasih duit ke itu jaksa…. Pembicaraan mengenai pembangunan sekolah terhenti sampai di situ dan saya tidak mau lagi membicarakan itu dengan Bapak saya. “Gambar hidup” itu menjadi tidak berguna dihadapan syetan berwujud manusia si Jaksa keparat laknatullahu ‘alaih itu.

Ya sekarang mah saya cuma bisa mendo’akan ka kabeh Jaksa di Indonesia sing areling. Tapi mun teu eling-eling wae dido’akeun ku abdi sing aredan bin gelo bin sinting. Amiin.

Explore posts in the same categories: Absolutely Me!, Social Politic

Tags: , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

8 Comments on “Kejaksaan Ooo Kejaksaan”

  1. nh18 Says:

    Hmmm …
    (tampang saya kalem …)(tapi memendam kekesalan yang luar biasa )
    Kebayang pasti muka jaksa itu rada berminyak, perut buncit, makannya bunyi berdecap-decap, rokok pake pipa, sisiran belah pinggir pake pomade licin mengkilap, …
    (Ah … benci sekali saya membayangkannya … ;)

  2. ipk4cumlaude Says:

    Entahlah… kalo ga salah dia perempuan :D Nanti saya crosscheck lagi sama Babeh…

  3. nh18 Says:

    ups … maap …
    hihihhihi

  4. wahyu purwadi Says:

    selagi keadilan belum ditegakan jangan harap kemakmuran ini akan terjadi di Indonesia. banyak fakta yang mengatakan kalau pengadilan di negeri kita ini benar benar tidak bisa adil. para koruptor yang telah banyak merugikan uang negara dan telah banyak menyengsarakan orang banyak mereka oleh pengadilan terutama kejaksaan memvonis hukuman ringan. tetapi kalau orang kecil yang terlibat suatu masalah dan uang tidak berbicara maka dia akan di hukum dengan seberat beratnya…
    mudah-mudahan kita semuanya bisa merenung dan mebuka hati kita untuk berdoa mudah-mudahan kejaksaan dan pengadilan kita bisa berbuat adil dengan seadil-adilnya….
    sebab untuk sekarang ini mungkin sudah menjadi rahasia umum kalau uang bisa bicara di kejaksaan dan pengadilan dan uang tersebut bisa membebaskan orang yang salah….
    untuk para pengabdi negara yang bernama jaksa bertobatlah dan berlakulah adil sebelum tuhan murka dan memberi siksa kepada kamu sekalian…

  5. ipk4cumlaude Says:

    Setuju mas wahyu.
    Sebagai bukti kebobrokan Kejaksaan, udah pernah denger/baca kan berita mengenai demo guru ke kejaksaan di Karawang, ternyata perilaku mereka merata….. http://www.liputan6.com/news/?id=156466&c_id=7

    Tapi setelah gembongnya ditangkep, pada malu tuh mereka…

    Nyambung lagi cerita babeh gw, ternyata babeh setuju ngasih duit ke mereka tapi duitnya belum dikirim ke mereka dan kata babeh ga bakalan dikirim. Kejadian babeh gw ini sebelum kejadian Urip, tapi setelah keluar berita Urip, ga ada keberanian dr Kejaksaan buat menta duit lagi….

  6. nh18 Says:

    Hehehehe …
    kena batunya tu ibu ya …

  7. Buah Dari Berbuat Jujur « .: ipk4cumlaude Says:

    [...] Masih ingatkah cerita tentang babeh saya dalam membangun sekolah SD-nya, kalau lupa silakan baca di sini. Ternyata perbuatan jujur itu langsung dibayar kontan akibatnya di dunia. Pas hari Pendidikan [...]

  8. Ikkyu_san Says:

    gila dan semakin gila ya…
    mereka yang seharusnya adil…malah kayak gitu.
    herannnnnn
    apa benar keadilan sudah mustahil di negara kita?
    Tapi hebat sekali bapak ya…OK tapi ngga dikirim. Soalnya dia minta di kandang dia kan? Ngga bisa ditolak tuh. Salut sama bapak

Comment: