Mengevaluasi Shaum Kita

Sebagaimana tujuan dari diwajibkannya shaum Ramadhan adalah menjadi insan yang bertaqwa. Nah, itu dia tujuan kita. Namun, apabila kita tidak mengetahui arti taqwa itu sendiri, bagaimana bisa kita mengevaluasi apakah Ramadhan kali ini (atau Ramadhan yang lalu) telah menjadikan kita insan bertaqwa?

Gampangnya, taqwa adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Atau lebih simpel lagi, taqwa itu adalah tidak melakukan maksiat sama sekali. Di awal surat al-Baqarah dinyatakan bahwa, taqwa itu yakin terhadap hal-hal ghaib, mendirikan shalat, berinfaq, yakin terhadap al-Quran dan kitab-kitab sebelumnya (Zabur, Taurat, Injil dan suhuf-suhuf), dan yakin akan adanya hari pembalasan. Ada banyak lagi ciri2 orang bertaqwa dalam al-Quran. Nah kita liat diri kita sendiri, sudahkah kita memiliki ciri2 orang yang bertaqwa. Kalau belum, berarti…. shaum Ramadhan kita belum sukses.

Mudah2an kita termasuk orang2 yang shaum Ramadhannya sukses yakni menjadi orang2 yang bertaqwa. Amin.

Ciri taqwa yang pertama: yakin terhadap hal ghaib

Yakin terhadap hal-hal ghaib memiliki esensi bahwa di segala episode hidup kita tidak hanya melibatkan unsur material saja: diri kita sebagai subjek dan masalah sebagai objek (saya dan masalah). Tetapi, yakin bahwa ada unsur ghaib yang berperan di situ sehingga pola pikir orang bertaqwa menjadi: saya, Allah dan masalah. Dengan berfikir demikian, gaya hidup kita menjadi teratur, ga nafsu kaya, ga nafsu pengen punya istri cantik atau suami gagah nan ganteng, ga nafsu pengen henpon bagus *dueng…!* dengan melalui cara2 yang fahsya dan munkar. Hari ini jadi pejabat, eh pensiun di penjara. Makanya, semua do’a dan dzikir kita mencerminkan ketiga hal itu: saya, Allah dan masalah.

Misalnya, do’a mau makan: Allaahumma baariklanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa ‘adzaabannaar. Dalam do’a itu ada unsur kita, makanan dan Allah sebagai pemberi rizki. Tapi sayang, saya lihat di warung2 makan, jarang sekali muslim membacakan do’a ini sebelum makan. Beda, ketika saya liat orang kristen, mereka memejamkan mata dan berdo’a dalam hatinya sebelum makan. Makanya, melihat orang kristen kaya gitu, saya ga mau kalah dan al-Hamdulillaah sekarang udah terbiasa lagi baca do’a sebelum makan. Bagaimana dengan Anda?

Begitupula do’a-do’a lainnyga: do’a mau tidur, bangun tidur, masuk WC, keluar WC, masuk masjid, keluar masjid, keluar rumah, do’a sedang berkendara, dll. Semua do’a itu memiliki tiga unsur yakni saya, Allah dan  masalah.

Yakin terhadap yang ghaib juga berarti kita meyakini bahwa seluruh material dan yang ghaib hanyalah milik Allah. Jasad kita, ruh kita, harta benda kita, masalah-masalah kita, semuanya adalah milik Yang Maha Ghaib. Kalau kita yakin seperti ini bahwa Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mau diberi masalah sebesar apapun, tetep berfikiran saya, Allah dan masalah seraya mengucap sesungguhnya semua milik Allah dan kepadaNya lah kita akan kembali untuk mempertanggungjawabkan kelakuan kita.

Masih ingatkah dulu kita di alam ruh diciptakan oleh Allah. Kemudian kita dipindahkan ke alam dunia ini, dengan menggunakan “kendaraan” berupa jasad. Allah mengambil koleksi ruh milikNya lalu meniupkan ruh-Nya yang memilki sifat ketuhanan ke dalam jasad yang memiliki sifat hewani yakni: makan, berkoar2 ga jelas, seks dan tidur. Jasad milik Allah, ruh milik Allah, dunia milik Allah, semuanya milik Allah. Kemudian Allah memberikan aturan hidup di dunia ini dengan menurunkan kitab-kitabnya termasuk yang terakhir adalah al-Qur`an yang dijelaskan dengan al-Hadith Rasulullah saw. Tapi kok kenapa banyak orang yang malah membuat aturan sendiri dengan mendepak aturan-aturan Allah. Bagaimana perasaan Anda ketika Anda punya rumah, kemudian ada yang bertamu lalu sang tamu itu ujug-ujug bikin aturan di rumah Anda yang bertentangan dengan aturan yang sudah Anda buat di rumah Anda tersebut?

Maka, peliharalah segala milik Allah ini dengan mengikuti aturan Alah karena segalanya akan kita bikin laporan pertanggungjawabannya. Bumi kita, udara kita, harta kita, jasad kita beri makanan yang sehat jangan diberi asap *dueng….!*, ruh kita beri makanan yang sehat dengan siraman-siraman ruhani.

Demikian untuk ciri taqwa pertama. Mudah-mudahan bermanfaat. Tulisan di atas merupakan tangkapan saya atas materi yang disampaikan oleh ustadz Arifin Jayadiningrat dan tambahan2 dari saya sendiri. Sehingga, kalau ada yang salah pasti kebodohan saya menangkap materi beliau dan tolong dimaafkan.

Untuk ciri-ciri taqwa lainnya, insya Allah akan disambung di tulisan berikutnya….