Prospek Penerbitan Obligasi Korporasi
KOMPAS Senin, 6 Oktober 2008
Pasar perdana obligasi korporasi tahun ini tidak sebergairah tahun lalu. Total emisi obligasi pada tahun ini baru sebesar Rp 12,9 triliun atau dengan emisi bersih hanya sekitar Rp 1,6 triliun. Bursa Efek Indonesia pun telah merevisi perkiraan emisi obligasi korporasi di tahun ini dari Rp 40 triliun menjadi Rp 15 triliun. Bagaimanakah kondisi pasar perdana obligasi korporasi sampai akhir tahun ini?
Pasar obligasi di tahun berjalan 2008 diwarnai oleh kenaikan laju inflasi akibat melambungnya harga komoditas pertanian dan minyak dunia serta kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada Mei lalu. Hal ini mendorong peningkatan suku bunga acuan (BI Rate) dari 8 persen di awal tahun 2008 ke posisi 9,25 persen pada awal September.
Mengikuti kenaikan BI Rate yang merupakan acuan bagi imbal hasil di pasar obligasi, rata-rata imbal hasil di pasar obligasi juga mengalami kenaikan sekitar 2,18 persen dari 9,77 persen di awal tahun 2008 ke level 11,94 persen di akhir Agustus.
Kenaikan imbal hasil di pasar obligasi juga diakibatkan oleh besarnya penerbitan surat berharga negara (SBN) yang harus diterbitkan pemerintah pada tahun ini untuk menambal defisit APBN 2008 yang sebesar Rp 117,8 triliun. Dengan total SBN yang akan jatuh tempo sekitar Rp 37,1 triliun, artinya pada tahun ini pemerintah harus melakukan penerbitan SBN sejumlah Rp 154,8 triliun.
Jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan total penerbitan tahun lalu yang sebesar Rp 86,4 triliun. Ini membuat posisi tawar pemerintah melemah di mata investor pada tahun ini.
Hampir di setiap penerbitan SBN, imbal hasil di pasar sekunder obligasi pemerintah mengalami kenaikan sebelum tanggal penerbitan. Investor meminta imbal hasil (kupon) yang lebih besar di pasar perdana.
Dengan kupon yang tinggi, pemerintah beberapa kali mengurangi bahkan tidak menyerap dana yang masuk dari investor karena pertimbangan mahalnya biaya penerbitan.
Tingginya kupon yang diminta pada SBN juga berdampak pula pada penerbitan untuk obligasi korporasi. Tahun ini, rata-rata kupon dari obligasi korporasi di pasar perdana meningkat hampir sebesar 1 persen menjadi 11,8 persen dibandingkan dengan rata-rata kupon tahun lalu yang hanya 10,9 persen.
Tingginya kupon ini menjadikan biaya yang harus ditanggung emiten untuk menerbitkan obligasi juga harus lebih besar. Tentunya korporasi memilih untuk mencari pembiayaan dari pihak lain yang relatif lebih murah atau menunda penerbitan sampai kondisi di pasar obligasi kembali normal.
Pada awal tahun, korporasi memiliki pandangan bahwa laju inflasi tahun ini diperkirakan akan mengalami percepatan. Oleh karena itu, korporasi melakukan belanja modalnya pada bulan-bulan awal tahun 2008 ketika harga-harga barang belum mengalami kenaikan.
Namun, karena kondisi pasar obligasi yang belum stabil yang menyebabkan biaya penerbitan menjadi mahal, korporasi pun lebih memilih untuk mengambil sumber pembiayaan dari perbankan yang menawarkan biaya pinjaman relatif lebih murah.
Sampai bulan Juli ini, posisi kredit di bank umum tercatat Rp 1.166,6 triliun atau telah meningkat 16,4 persen sejak awal tahun ini dengan rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) sebesar 76,0 persen.
Angka ini jauh lebih besar dibandingkan tahun 2007. Posisi kredit di perbankan dari awal tahun sampai bulan Juli 2007 hanya sebesar Rp 872,0 triliun atau tumbuh 10,1 persen dengan LDR sebesar 63,2 persen.
Di pasar perdana, total emisi obligasi korporasi pada tahun ini baru Rp 12,9 triliun atau lebih rendah dibandingkan emisi tahun lalu yang mencapai Rp 30,2 triliun ketika suku bunga masih mengalami tren penurunan.
Ada sekitar Rp 17,4 triliun obligasi yang akan jatuh tempo pada tahun ini. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dari total obligasi yang jatuh tempo tahun 2007 yang sebesar Rp 12,4 triliun.
Dengan demikian, jika emiten melakukan refinancing seluruh utangnya dalam bentuk obligasi pada tahun ini dengan melakukan emisi obligasi, maka pasar obligasi akan mendapatkan pasokan obligasi baru setidaknya sejumlah Rp 17,4 triliun.
Namun, faktanya sampai saat ini, total emisi bersih obligasi korporasi baru sebesar Rp 1,6 triliun. Ini merupakan jumlah yang sangat kecil (kurang dari 10 persen total emisi bersih tahun lalu) dibandingkan total emisi bersih tahun 2007 yang mencapai Rp 17,8 triliun.
Dampak suku bunga SBI
Kurang bergairahnya pasar perdana obligasi korporasi ini disebabkan oleh kenaikan suku bunga yang menyebabkan mahalnya biaya emisi obligasi. Gambar 2 menunjukkan terdapat hubungan terbalik yang erat antara level suku bunga SBI 1 bulan dengan total emisi obligasi korporasi.
Seperti pada gambar, tampak bahwa ketika rata-rata suku bunga SBI satu bulan mengalami penurunan dari 23,1 persen di tahun 1999 ke 12,5 persen pada tahun 2000, emisi obligasi korporasi mengalami kenaikan signifikan dari Rp 2,1 triliun di tahun 1999 menjadi Rp 7 triliun di tahun 2000.
Begitu pula ketika rata-rata suku bunga SBI satu bulan mengalami penurunan dari 16,6 persen di tahun 2001 sampai 7,4 persen di tahun 2004, total emisi obligasi korporasi mengalami kenaikan dan mencapai puncaknya pada tahun 2003 dengan total emisi sebesar Rp 25,5 triliun.
Pada tahun 2007, total emisi obligasi korporasi mencatat rekor tertinggi, yakni sebesar Rp 30,2 triliun, ketika rata-rata suku bunga SBI satu bulan turun dari 11,8 persen di tahun 2006 ke 8,6 persen pada tahun 2008.
Sebaliknya, ketika rata-rata suku bunga SBI satu bulan meningkat dari tahun 2000 ke tahun 2001 dan dari tahun 2004 ke tahun 2006, total emisi obligasi mengalami penurunan.
Pada saat rata-rata suku bunga SBI satu bulan pada tahun 2004 berada pada level 7,4 persen, total emisi obligasi korporasi mencapai Rp 20 triliun. Total emisi obligasi korporasi mengalami penurunan menjadi sebesar Rp 11,6 triliun pada tahun 2006 ketika rata-rata suku bunga SBI satu bulan pada tahun itu naik ke level 11,8 persen.
Perkembangan pasar perdana obligasi korporasi ke depan, selain dipengaruhi tingkat suku bunga SBI satu bulan, juga dipengaruhi oleh perkembangan kondisi likuiditas di sistem keuangan.
Kondisi likuiditas keuangan yang mengetat seperti akhir-akhir ini akan mengakibatkan suku bunga pinjaman dari perbankan mengalami kenaikan.
Suku bunga memberatkan
Bagi korporasi, kenaikan suku bunga perbankan akan memberatkan biaya pinjaman. Pada kondisi seperti ini, kredit dari perbankan menjadi kurang menarik dan kemungkinan korporasi akan mempertimbangkan untuk melakukan emisi obligasi jika kondisi di pasar obligasi membaik dan menawarkan biaya emisi yang relatif lebih rendah.
Perkembangan kondisi di pasar keuangan di Amerika Serikat juga diperkirakan akan berpengaruh terhadap pasar perdana obligasi korporasi domestik.
Kami melihat pasar obligasi domestik kemungkinan tidak akan terkena dampak yang lebih parah atau bahkan menjadi lebih bergairah. Karena dalam kondisi seperti ini, bagi investor domestik, pasar obligasi menawarkan investasi dengan tingkat risiko yang relatif lebih aman dibandingkan dengan pasar saham.
Dengan mempertimbangkan perkembangan suku bunga dan kondisi likuiditas keuangan domestik ke depan serta dampak krisis keuangan di AS, kami memiliki pandangan yang tidak jauh berbeda dengan perkiraan BEI mengenai perkembangan pasar perdana obligasi korporasi sampai akhir tahun ini.
Apalagi ditambah dengan berita baik mengenai keputusan pemerintah mengurangi defisit APBN 2008 pada bulan lalu yang menyebabkan jumlah penerbitan SBN berkurang sebesar Rp 15 triliun menjadi sekitar Rp 139,84 triliun. Ini meningkatkan kepercayaan pemerintah dalam mengelola defisit APBN 2008, di mana sisa total emisi SBN sampai akhir tahun ini menjadi hanya sekitar Rp 15 triliun.
Total emisi obligasi korporasi selama tahun ini diperkirakan akan melebihi Rp 16 triliun jika BI Rate tidak mengalami perubahan atau tetap pada level 9,25 persen sampai akhir 2008.

