Japanese Food: Sashimi

Japanese Food: Sashimi

Seperti yang sudah saya tulisakan di sini bahwa saya mengalami konfliks di tiga pertemuan terakhir antara lidahku dan makanan Jepang. Kemudan mba Imel, Yoga dan saya merencakan untuk mencicipi makanan Jepang tapi versi yang mentah-mentah, sashimi. Dan yess, rencana itu telah kami lakukan semalem. Nah, apakah lidah saya telah berdamai dengan makanan Jepang?

Sebelum Malam M (kalau hari kan Hari H), saya ngobrol dulu sama Lia yang suka makan sashimi. Kata dia, enak banget meski awalnya ada jenis makanan yang bikin ga enak. Hm… terbayang-bayanglah sebuah video youtubenya mba Imel yang makan sashimi ketika ikannya masih megap-megap. Dan teringat juga sebuah postingan Bang Hery mengenai restoran yang menyajikan makanan segar. Wah gimana dengan diriku, apakah bisa melahap makanan mentah Jepang?

Akhirnya… malem tadi, mba Imelda n Yoga ngajakin Japs, dan diriku ngajakin Lia n Mas Tias. Oya, Riku ikut juga. Kami makan di restoran di Kuishinbo, FX F5. Emang ga seheboh kopdar sebelumnya yang didominasi oleh Lala, Ria n Masnug sih tapi kali ini malah tidak ada yang dominan kehebohannya. Jadi susananya bisa lebih hidup :D .

Makanan pertama: sahimi apa ya namanya ?

“Bismillarhirrahmanirrahiim. Itadakimasu…!”
“Slurrrpp… Am…”
*jepret dengan lampu kilat*

Daging ikannya lembut dengan kecap yang belum meresap ke dalam daging. Lidahku menangkap berbagai rasa yang bercampur dengan sempurna.

“Nyamnyamnyam…”

Tidak mau berlama-lama di lidah, saya langsung menelannya dengan garang. “Glek…!” Dia sudah masuk ke kerongkongan meluncur menuju lambung.

“Hm.. OISHIIII…!!!”
“WAAH ENAK SEKALI… TIDAK PERNAH SAYA MEMAKAN MAKANAN SELEZAT INI….!!!”  *Born to Cook mode ON* hehehe…8x lebay.com

Langkah pertama makan sashimi sukses berat. Menurut ilmu Fisika, memang langkah pertama adalah yang paling berat karena ada gaya yang disebut gaya statis (μ s) yang mana jauh lebih besar dariapada gaya kinetis (μ k). Bagaimana dengan makanan selanjutnya?

Salmon, Tuna, Udon, Soba, Ramen (kepedasan tingkat 2 dari 10), telur ikan, sushi (ada ga sih?) dan lain-lain (gatau gw namanya makananny apaan, lupa juga moto buku menunya).

Dengan percaya diri dan gagah berani saya ternyata bisa melahap semuanya. Hm… Oishi…!

Alhamdulillaah, ternyata lidahku sudah berdamai dengan makanan Jepang. Tapi ga tau deh sama makanan di restoran cepat saji Jepang. Keknya masih ga suka sih, soalnya makanannya asin dan malah rasanya ga jauh dengan makanan fastfood dari US.