Ujian yang Nikmat

Multiple choice by Arroclint

Akhir-akhir ini kata ujian sedang akrab di kalangan mahasiswa dan pelajar. Sebentar lagi akan ada high seassion musim liburan. Hotel dan penginapan di tempat wisata sudah banyak yang fully booked menyambut liburan kenaikan kelas (bagi yang naik kelas :P ). Ga lama juga, kantor saya akan sepi karena sebagian karyawan menghabiskan waktu liburan ini dengan berwisata bersama anak-anaknya.

Namun karena sedang krisis, yang biasanya wisata ke Eropa, kini ke Asia Tenggara. Yang biasanya ke Asia Tenggara, kini cuman ke Bali or Lombok. Yang biasanya ke Bali, kini hanya berwisata ke daerah sekitar Jakarta: Puncak, Pelabuan Ratu, Pangandaran, Ujung Kulon, dll. Jadi, kata Renald Kasali dalam Marketing in Crisis, jangan kaget kalau lagi krisis kok tempat wisata tetep rame. Peluang bisnis tetep masih terbuka.

Loh jadi ngomongin wisata dan bisnis sih. Baiklah kita kembali ke topik: Diuji.

Para blogwalkers yang budiman (bukan Budiono atau Budianduk ya…. :D ), sama seperti para mahasiswa dan pelajar, dalam minggu ini ternyata saya juga lagi diuji. (hehehe… curcol.com)

Ujian yang diberikan Allah bisa berupa kesulitan hidup, seperti habis duit padahal baru tanggal 5, masih lama ke tanggal gajian. Bisa juga mengenai hubungan sosial kemasyarakatan i.e. disikut, didengkek, dipiting, diinjak, dijilat, diputuskan atau direject. Ujian-ujian ini tentu saja sama kayak para pelajar dan mahasiswa yang ingin naik kelas. Tapi syaratnya cuman satu: harus lulus ujian dulu. Kalau ga lulus, maka ujian ini akan datang terus menghampiri kita.

Sementara itu, ada jenis ujian yang seringkali kita lupa bahwa ini adalah ujian. Ujian ini berupa kenikmatan hidup. Banyak yang menyangka (saya juga sering) bahwa kenikmatan bukan ujian. Padahal mah ujian juga. Coba perhatikan janji Allah, kalau kita diberi nikmat kita bersyukur maka Allah akan melipatkan kenikmatan kita dan apabila kita kufur nikmat maka ketahuliah sesungguhnya azab-Ku sangat dahsyat. Contohnya ya kebalikan dari ujian kesulitan tadi: gaji naik (amiiin), disanjung, dipuji, terpilih jadi lurah, diterima dan dimudahkan.

Kesimpulannya, mau sedang ditimpa kemalangan atau kesenangan tetep kita mesti dekat dengan Zat Pemberi Nikmat. Maka dari itu dalam menghadapi ujian ini, saya mengucapkan al-Hamdulillaah sebagai ungkapan rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan Allah. Insya Allah apa yang diberikan akan dipergunakan sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat (macem UUD 45 aja deh).

Update
Jadi kepikiran kalimat yang ini “Kalau ga lulus, maka ujian ini akan datang terus menghampiri kita” Bener ga ya? Soalnya keenakan juga kalau Ujian yang Nikmat itu datang terus sementara kita ga lulus-lulus. Ada yg bisa ngasih pencerahan?