Omikoshi

Omikoshi - Gelar Jepang UI 2009

Ini adalah festival kebudayaan Jepang pertama yang saya datangi di tahun ini. Tahun lalu, saya sama Mang Asep berkunjung ke Indonesia-Japan Expo 2008 dalam memperingati 50 tahun hubungan kedua negara. Waktu itu, acaranya seminggu di PRJ Kemayoran. Banyak sekali acaranya sehingga saya ga bisa ngikutin semua, hanya datang pas hari terakhir aja yang ditutup dengan Bon Odori. Nah, kali ini, Gelar Jepang di UI hanya dua hari saja, Sabut dan Minggu. Saya bisa datang di dua hari itu. Ini sebenernya balas dendam karena tahun lalu ga ikutan Gelar Jepang di UI. Jadi, agenda2 lain yang beririsan dengan Gelar Jepang di UI, mohon maaf, saya batalkan… :P

Dari sekian banyak acara yang diselenggarakan, saya hanya bisa ikutan beberapa acara saja. Yang pertama adalah Chanoyu Workshop, yakni latihan upacara teh Jepang. Rugi deh yang ga ikutan ini… :P Karena orang yang mempraktekan pembuatan teh hijau berbusa Jepang ini kawai sangat.  Ah maaf ga bisa saya share gambarnya di sini, takut melanggar privacy… :P Biar buat koleksi gambar saya saja hehehe… Dengan rambut lurus seperti lidi sebahu dia mempraktekan pembuatan teh dengan manner dan penuh konsentrasi. Sepertinya andaikan ada nyamuk gigit, dia tetap bergeming.

Kemudian ikutan Washi Workshop atau latihan origami. Saya bikin origami perempuan Jepang yang berbalut Kimono. Lumayan lah, melatih kinestetik dan otak kanan. Ternyata workshop ini ngabisin 1,5 jam. Lama juga. Jadinya, ga bisa nonton demo Omochitsuki (bikin mochi – sejenis tape uli) dan Yosakoi (tarian). Habis itu, nonton Omikoshi, yakni arak-arakan yang memanggul rumah kuil Jepang. Yang manggul cowok semua kecuali ada satu cewek salah satu dari rombongan saya ikutan manggul juga. Buru-buru deh kita liatin temen itu dan foto-foto sebagai bukti.

Besoknya, Minggu, saya balik lagi, ingin ikuan Bon Odori. Biasanya festival budaya Jepang suka diakhiri dengan Bon-Odori. Hari Minggu jauh lebih rame dibandingkan hari Sabtu. Meskipun bon odori dimulai lebih dari jam setengah sembilan malam, tetep saja pengunjung masih membludak. Kita nari mengelilingi panggung odori di sana. Tapi sayang tempat narinya sempit dibandingkan dengan banyaknya pengunjung. Dan, kali ini juga, pas bon odori bertemu lagi temen les Nihongo-nya Mang Asep, Fatma-san. Pasnya sih, bon odori menggunakan kostum Yukata. Dua orang rombongan menggunakan Yukata. Kawai ya kalau pake Yukata. Saya juga pengen tapi belum punya. Beli di mana ya?

Acara berakhir dengan hanabi (kembang api) langsung setelah bon odori selesai. Wah… hebat nih panitianya. Salut. Ini hanabi kedua yang saya liat setelah di Ancol. Menyenangkan sekali weekend kali ini.