Sang Pencari Kebenaran

Prabu Siliwangi

Prabu Siliwangi

Sebagai orang Sunda, saya ga tau sejarah Sunda itu seperti apa. Malah saya taunya kerajaan2 lain termasuk Majapahit. Sedangkan kerajaan2 yang pernah berkuasa di tanah tempat saya lahir, tempat saya tumbuh, tempat saya belajar dan tempat saya mengais rizki, saya tidak tau sama sekali. Parah!

Yang ingin saya tahu dari sejarah nenek moyang saya adalah seperti apa sih mereka sampai tanah ini ga mampu ditaklukan oleh kerajaan Majapahit. Bolehlah Majapahit menguasai wilayah Asia Tenggara, tapi tanah tetangganya, Tanah Sunda Galuh, dari Ujung Kulon sampai Ciamis termasuk Sunda Kalapa (Jakarta) tidak tertaklukan. Nah ini yang menarik saya untuk mempelajari sejarah Sunda.

Satu lagi, kepenasaran saya adalah, bagaimana agama Islam menyebar merata di tanah Sunda.

Nah, kepenasaran saya ini pernah saya lempar ketika chatting di ClubCooee. Ketika itu, unclekumlod, kang cepot, Mxyztplk (Hendra), el_comandante (Don Vito) yang orang Sunda berdiskusi di room Afgan’s Karaoke. Dan wah ternyata si M dan kang Cepot pemerhati sejarah. Apalagi si M ini tau bgt kisah Prabu Siliwangi beserta wasiat-wasiatnya.

Bulan lalu, saya belanja buku di Gramedia. Ternyata di rak novel, sudah nangkring buku-buku novel sejarah sunda. Saya beli novel pertama dari Dwilogi Prabu Siliwangi yang dikarang oleh E Rokajat Asura. Di buku ini diceritakan mengenai seorang anak mahkota bernama Walangsungsang putra Prabu Siliwangi dari istrinya Ratu Subanglarang.

Membaca kisah di novel ini ga jauh beda dengan baca buku “60 Sirah Sahabat Rasul”. Di mana isinya sama-sama menceritakan pencarian kebenaran dalam Islam. Mirip dengan kisah sahabat Salman al-Farisi yang mencari kebenaran dari Persia ke Armenia (cmiiw) lalu baru bertemu dengan Nabi Muhammad di Madinah. Salman al-Farisi mendapatkan petunjuk dari guru-gurunya yg salah satunya, ciri ‘dia’ Rasulullaah adalah ga memakan harta sedekah tapi memakan hadiah.

Nah, Walangsungsang pun demikian. Dari berlimpah kenikmatan di kraton Pakuan dengan agama Jati Sunda, Walangsungsang yang belum genap berumur 20 tahun memilih meninggalkan Padjadjaran untuk mencari kebenaran dalam Islam. Subhanallaah. Adiknya pun Rarasantang yg berusia sekitar 15 tahunan kabur dari Pakuan ikut kakaknya mencari kebenaran dalam Islam ke arah timur. Aih hebat sekali mereka berdua dalam usia yang sangat muda mengorbankan fasilitas keraton dan menggantikannya dengan perjalanan dari guru ke guru hanya untuk mempelajari ajaran Kanjeng Nabi Muhammad. Berbeda dengan Salman al-Farisi yang bertemu dengan Nabi, Walangsungsang seperti juga kita, ga bertemu Nabi, tapi berguru pada Syaikh Nurjati. Namun demikian, kita dan juga Walangsungsang tetap mengamalkan ajarannya.

Dalam perjalanan hidupnya, Walangsungsang membangun desa yang sekarang menjadi Cirebon. Di novel itu diceritakan, Walangsungsang lah yang membikin terasi dari rebon. Nah air perasannya, Cai Rebon juga ga kalah nikmat. Makanya daerahnya disebut Cirebon.

Aneh juga ya, zaman dulu mah, gampang banget guru mengganti nama muridnya. Walangsungsang berganti nama jadi Somadullah saat berguru sama Syaikh Nurjati kemudian Cakrabumi saat diangkat anak oleh Ki Gedeng Alang-Alang. Kemudian berganti menjadi Cakrabuana kemudian berganti nama lagi menjadi Abdullah Iman Bayanullah.

Rarasantang juga diubah namanya jadi Ratnaeling terus balik lagi jadi Rarasantang terus ganti nama menjad Syarifah Mudaim. Nah Rarasantang punya anak bernama Syarif Hidayatullah. Sedangkan Walangsungsang dan Nyi Nini Indangayu memiliki anak yang bernama Ratu Mas Pakungwati dan Pangeran Carbon.

Ah… Senang sekali bisa tau sejarah nenek moyang sendiri. Sedikit sekarang saya tahu Prabu Siliwangi yg sangat teguh dg ajaran Jati Sunda dan Pangeran Cakrabuana yg mencari kebenaran dalam Islam dan menyebarkannya ke tanah Sunda.

Di buku keduanya, penasaran bagaimana hubungan Prabu Siliwangi di Pakuan Pajajaran (Bogor) dengan anaknya Pangeran Cakrabuana di Cirebon. Katanya perang.