Bencana: Ujian, Peringatan atau Azab?

Kalau ga salah ingat, Pak Zainudin MZ pernah berceramah di saat Ramadhan di TV1. Beliau menyampaikan sebuah rumusan bencana yang paling make sense menurut saya. Sebenernya sih ga penting mencari rumus-rumus apalagi yang make sense. Tapi ga apa-apalah demi memuaskan otak saya aja.

Sebuah bencana datang ga melihat apakah itu orang baik, sedeng atau orang yang ancur. Datang aja. Namun kandungan bencana itu yang berbeda bagi setiap individu.

Kalau kita merasa orang yang baik, sholeh, menjauhi maksiat, maka bencana itu disebut UJIAN. Tujuannya adalah untuk mengupgrade keimanan kita. Orang jenis ini, ga bakal bilang, “Apa dosa saya?” tapi akan rela dengan sepenuh hati menerima bencana itu meskipun sampai nyawanya melayang. Karena kematian, bagi orang jenis ini adalah jalan segera untuk bertemu Allah. Semoga kita bisa menjadi golongan orang jenis ini.

Jenis kedua adalah orang yang ibadah jalan tapi maksiatnya jalan. Proporsinya di sekitar 50:50. Nah bagi orang jenis ini, bencana mengandung arti PERINGATAN. Wooiiii ingat!! Tinggalkan tuh maksiat! Lalu orang jenis ini sadar dan beristighfar untuk kemudian memperbaiki diri.

Dan jenis terakhir adalah orang yang lebih banyak maksiatnya daripada amal baiknya. Berdzikir dengan ruku dan sujud (shalat) jarang. Shaum cuma di hari pertama Ramadhan aja. Kurban cuman makannya aja. Berbisnis curang. Maksiatnya lebih banyak lagi. Saya suka bingung dengan jenis orang kek gini. Emangnya orientasi hidup mereka itu apa? Ya sudahlah, biarkan saya dengan kebingunannya. Yang penting, orang yang baca tulisan ini ga termasuk ke dalam jenis orang kek gini. Karena untuk orang kek gini, bencana yang datang mengandung AZAB Allah di dunia. Na’udzibillaah.