Tanahku Negeriku, Indonesiaku?
Pernah pas ngobrol sama seorang temen mengenai politik dan kondisi carut marut negeri ini, dia bilang, “Udah ah, males bahas gituan.” Awalnya saya fikir temenku ini rada aneh. Tapi lama-lama saya yang ketularan. Ga peduli alias apatis sama dongeng klasik negeri ini yang dari waktu ke waktu tetap saja carut-marut.
Pas acara ulang taun Kompasiana dan Pesta blogger lalu, Pandji nyanyiin lagu rap nasionalis gitu. Tetep aja saya apatis.
Tanah tempat saya lahir, Bandung, kemudian tempat saya tumbuh, Cianjur, lalu tempat saya kuliah, Bogor dan tempat saya bekerja, Jakarta, dulu….. bukan di bawah pemerintah Indonesia. Tanah-tanah tersebut sebelumnya diperintah oleh Jepang, Inggris, Portugis, Belanda, Kerajaan Banten, Kerajaan Padjadjaran, Kerajaan Sunda dan Galuh… terusss sampai saya juga ga tau dulu siapa yang memerintah di sini. Yang pasti ga pernah diperintah sama Majapahit.
Ratusan taun lalu, di tanah ini (Bandung, Cianjur, Bogor, Jakarta) ada Prabu Siliwangi, kemudian Fatahillah, kemudian Walangsungsang (di Cirebon sih), dan gatau siapa lagi secara saya bukan ahli sejarah. Yang pasti dulu tuh tanah ini bukan Indonesia. Baru dinamain Indonesia ketika kerajaan-kerajaan dan penguasa di kepulauan (yg sekarang di sebut Indonesia ini) bertekad untuk bersatu bikin sebuah negara kesatuan yang diberi nama Indonesia.
Sekarang emang Indonesia yang lagi menguasai tanah-tanah tempat saya pernah dan sedang pijak ini. Indonesia yang baru 60an taun lalu menguasai tanah ini sampai sekarang. Hasilnya, selama 60 tahun lebih kita memilki prestasi korupsi yang tetep bercokol di urutan atas dunia, hebat, hukum yang bisa dinego, pembunuhan masal atas nama ideologi. Coba buka lagi buku sejarah dan ingat-ingat berapa ratus orang mati karena “dianggap” berideologi komunis? Hukum macem apa yang kala itu berlaku di neagara bernama Indonesia ini? Orang berhak mati karena “dianggap” komunis tanpa pengadilan. OK misalnya orang komunis harus mati di negeri ini tapi ini baru “dianggap”. Saudara kita sendiri, satu dapur, satu sumur, satu udara, satu darah, boleh mati. Gilaaa… ini negeri. Catat saya bukan penganut komunisme. Pembunuhan masal di Tanjung Priok. Berlanjut terus kegilaan sampai sekarang Cicak lawan Buaya yang melibatkan pilar-pilar negara yang namanya Indonesia.
Bukan sekarang, tapi ternyata kekacawan dimulai sejak detik-detik pertama negara Indonesia berdiri. Untuk event yang sangat penting, naskah Proklamasi yang udah dibikin bersama founding fathers, bisa tiba-tiba raib. Kocak sekali. Sekali ketemu, eh ada kalimat yang dihapus secara sepihak. Hahaha… dagelan pertama dan paling kocak di sejarah Indonesia. Sejarah negara yang kini memerintah di tanah-tanah tempat saya hidup. Kapan dagelan ini akan berakhir? Apa mau mempertahankan Indonesia yang ga pernah ga carut marut? Apakah saya rindu Padjadjaran? Atau rindu Fatahillah? Atau rindu Belanda? Atau rindu Portugis? Atau rindu Inggris? Atau rindu Jepang? Ah engga juga.
Ga habis pikir, kenapa orang-orang jahat ga habis-habis, masih aja betah hidup di tanah-tanah tempat saya hidup ini. Kalau Indonesia ga mampu mengusir orang-orang ini, lantas siapa yang harus mengusir? Hm… ga boleh protes kalau saya bilang Indonesia malah kreator orang jahat. Apakah harus dijajah lagi biar irigasi lancar, kota tertata rapi. Ataukah kerajaan Islam atau Sunda buhun lagi yang menguasai tanah-tanah tempat saya hidup ini?
Hm… Indonesia. Belum kepikiran untuk mau membelamu hidup atau mati. Karena jujur, saya ga tau apa yang harus saya bela. Haruskah saya membela hukum (yang dibuat manusia Indonesia yang beberapa taun ke depan udah old-fashioned)? Ataukah membela harta Indonesia (yang kini malah cuman dinikmati segelintir orang Indonesia dan orang asing)? Atau membela manusia Indonesia (yang dengan mudahnya, pilar-pilar negara Indonesia membunuh atau membiarkan rakyatnya mati)? Atau membela ideologi (yang bagian dari satu silanya dihapus secara sepihak oleh seseorang)?
Jadi apa sih mau saya?
Maunya, siapapun yang menguasi tanah-tanah saya: Bandung, Cianjur, Bogor & Jakarta, mau Indonesia atau misalkan nanti ada negara or kerajaan lain yang berkuasa, coba atuh jangan jadi orang jahat. Tebarkan kebaikan.
Tapi euy, salut lah sama temen-temen saya yang mikirin Indonesia. Saya yakin, temen-temen saya ini pengen Indonesia yang lebih baik. Sok lah saya dukung (tapi seringkali susah bedain buaya berkulit cicak)!





nengthree 4:25 am on 18 November 2009 Permalink |
Wah pengetahuan sejarahnya keren uy..
Teu nyangka..
mang kumlod:
Maca buku atuh!!! Kumaha guru teh.. hehehe…
nengthree 4:34 am on 18 November 2009 Permalink |
Baiklah siapapun nanti yang berkuasa, semoga tidak jahat
mang kumlod:
Dan semoga siapapun yang jahat, tidak berkuasa…
Oemar Bakrie 8:05 am on 18 November 2009 Permalink |
Makanya di lagu kebangsaan kita ada kata-katanya: ITULAH INDONESIA …
mang kumlod:
hahaha… baru mengerti itulah kenapa lagu tersebut dibuat… ROFL
syelviapoe3 1:56 pm on 18 November 2009 Permalink |
Indonesia…..Indonesia…
nengthree 6:52 pm on 18 November 2009 Permalink |
Huff..
Da kumaha tuh nya..
Bukan guru sejarah..
Hahaha..
*pamalesan
oke..
Mudah2an orang jahatnya pun semakin berkurang.
Dan saya dijauhkan dari niat dan perbuatan jahat..
Aamiin
vizon 9:12 am on 20 November 2009 Permalink |
satu lagi yang susah dibedakan adalah: BUYA dan BUAYA…